Orasi Ilmiah Bapak Prof Ganefri Ph D... | Portal Akademik - Universitas Batanghari
  • Masuk Fasilitas Portal

Info : +62 741 60 673

21 November 2015, oleh admin Print
Orasi Ilmiah Bapak Prof. Ganefri, Ph.D (Ketua Kopertis Wilayah X Sumbar, Riau, Jambi dan Kepulauan Riau) pada Wisuda ke 38 Universitas Batanghari Jambi

STRATEGI BERKOMPETISI BAGI LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Prof. Ganefri, Ph.D*


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Pertama-tama  izinkan saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Rektor, Pengurus Yayasan,  beserta seluruh civitas akademika “Univesitas Batanghari Jambi” yang telah mengundang saya untuk menyampaikan orasi ilmiah dalam acara terhormat ini. 
Hadirin yang saya hormati.
Beberapa saat lagi kita akan  memasuki era Asean Economic Community (AEC) atau "Masyarakat Ekonomi ASEAN"  (MEA) atau pasar bebas ASEAN yang akan dimulai pada awal tahun 2016 yang akan datang. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini mengintegrasikan seluruh negara-negara Asia Tenggara dalam berbagai bidang terutama di bidang ekonomi. Misalnya, mulai dari bidang ketenagakerjaan, investasi, produk, modal,  hingga jasa. Mau tidak mau bangsa Indonesia, termasuk Pendidikan Tinggi harus siap menghadapi era pasar bebas ini karena apabila MEA berlaku, modal investasi dan tenaga kerja terdidik dari negara ASEAN akan membanjiri Indonesia. Ada beberapa keuntungan bagi negara yang sudah siap menyongsog MEA ini, antara lain adalah meningkatkan kompetitif dalam persaingan ekonomi antar negara, serta meratakan pertumbuhan ekonomi antara negara Asia Tenggara. 
Salah satu aspek penting yang perlu disiapkan dengan cepat oleh  bangsa ini adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten. Kualitas sumber daya manusia merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Para tenaga kerja dari negara MEA yang memiliki kompetensi kerja yang lebih tinggi, tentunya akan memiliki kesempatan lebih luas untuk mendapatkan keuntungan ekonomi di dalam MEA. Dengan demikian, kita harus berusaha dengan sunguh-sunguh untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain, khususnya di kawasan ASEAN. Meningkatkan kualitas SDM harus diarahkan pada penguasaan iptek untuk menopang kegiatan ekonomi agar lebih kompetitif. Pemenuhan SDM yang berkualitas dan unggul karena menguasai iptek, akan berpengaruh terhadap struktur industri di masa depan. Dan apabila sasaran di atas bisa dipenuhi, akan semakin kuat basis industri yang sedang dibangun dan dikembangkan di Indonesia, yang pada gilirannya akan mendorong transformasi struktur ekonomi secara lebih cepat.
Peran perguruan tinggi dalam menghasilkan SDM yang berkualitas dan mempunyai daya saing harus ditingkatkan. Berdasarkan Pusat Data Pendidikan Tinggi, jumlah perguruan tinggi di Indonesia saat ini sekitar 4348, yang terdiri dari 15 persen merupakan  Pergurun Tinggi Negeri dengan jumlah mahasiswa 1.541.261 orang  dan 85 persen Pergurun Tinggi Swasta yang menampung mahasiswa sebanyak 2.825.466 orang. Di Kopertis X ada 239 PTS, 828 Program studi dengan jumlah mahasiswa lebih kurang 200.000. Saat ini baru sekitar 23% program studi di Kopertis X yang terakreditasi A dan B. 
Dalam bidang pendidikan yang tentunya sangat terkait nantinya dengan SDM sebagai tenaga professional yang harus bersaing dengan SDM dari negara-negara ASEAN, pemerintah telah mempersiapkan diri dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang telah diundangkan pada tanggal 17 Januari 2012. Sebagai tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2012 tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan RI (Permen) Nomor 73 tahun 2013 tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indnesia Bidang pendidikan Tinggi yang telah diundangkan pada tanggal 13 Juni 2013. 
Menghadapi pemberlakuan pasar bebas ASEAN, harus menjadikan pemangku kebijakan di lingkungan Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta,  siap dan merespon tantangan dan sekaligus peluang tersebut. Apabila pemberlakuan MEA tidak disikapi secara positif, maka bukan tidak mungkin banyak Perguruan Tinggi  di Indonesia, tersisihkan dan menjadi tamu di negeri sendiri. Namun hal itu tidak akan terjadi apabila mereka dapat mempertahankan bahkan meningkatkan kualitasnya lebih dari yang ada saat ini. Para pengelola perguruan tinggi, dan segenap sivitas akademikanya, perlu melakukan akselerasi daya saingnya menghadapi MEA. 
Daya saing perguruan tinggi adalah kemampuan dari perguruan tinggi untuk  menunjukkan keunggulan bersaing dan menawarkan nilai yang lebih atas kinerjanya dalam hal tertentu, dengan cara memperlihatkan situasi dan kondisi yang paling menguntungkan, dibandingkan dengan perguruan tinggi lainnya. 
Perguruan tinggi dapat diposisikan memiliki daya saing ketika suatu perguruan tinggi telah memenuhi indikator-indikator pencapaian tertentu yang dimulai dari input, proses dan output terhadap pengamalan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi. Citra perguruan tinggi menjadi penting untuk meningkatkan visibilitasnya di mata publik, baik nasional maupun internasional yang nantinya ternyata sangat berpengaruh terhadap peringkat perguruan tinggi tersebut. 
Setiap Universitas mempunyai cita-cita tinggi, dan ingin mewujudkan World Class University (WCU). Salah satu kriterianya adalah sejumlah pengakuan dalam lingkup internasional, baik itu penelitian, kualitas SDM, laboratorium, proses belajar mengajar, termasuk juga dari sisi kapasitas teknologi informasi dan popularitas webnya.
Sudah waktunya teknologi informasi dijadikan strategi dalam peningkatan daya saing perguruan tinggi hingga ke skala internasional. Peran manejemen adalah yang paling utama dalam mengambil langkah strategis ini, tanpa adanya manajemen yang baik dalam bidang teknologi informasi maka tidak akan tercapai dengan sempurna langkah strategis tersebut.
Untuk itu, peran dari perguruan tinggi dalam meningkatkan kesiapan  menghadapi MEA adalah :
•Meningkatkan kualitas dan cakupan penelitian perguruan tinggi agar dapat memberikan saran kebijakan dan memasukan kepada pemerintah dan swasta tentang langkah dan peluang yang dapat diraih oleh Indonesia di pasar ASEAN; atau tentang strategi negara ASEAN lain yang harus diwaspadai oleh Indonesia.
•Memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar tentang MEA 2015, yang dapat diselipkan dalam program pengabdian masyarakat atau kuliah kerja nyata.
•Memperkuat Kapasitas Kelembagaan Perguruan Tinggi Menghadapi MEA, bukan saja pada aturan-aturan main yang ada, namun pada organisasi secara keseluruhan. Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi akan memberikan dorongan pada upaya penguatan itu, yang diintroduksi lewat berbagai aktivitas untuk mengarahkan pada Good University Governance atau Tatakelola (Tata Pamong) Perguruan Tinggi yang Baik.
•Selain itu beberapa langkah yang lain adalah melakukan penjaminan mutu dan akreditasi sesuai standar nasional dan internasional.
•Dalam mengembangkan kurikulum, selain memasukkan pendidikan soft skill dan entrepreneurship, serta sertifikasi, juga orientasi kepada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Kerangka Kualifikasi Regional (KKR) merupakan suatu keharusan. Oleh karena itu sosialisasi, khususnya tentang KKNI harus lebih ditingkatkan.
•Kerjasama-kerjasama baik dengan sesama perguruan tinggi dalam negeri maupun dengan perguruan tinggi luar negeri, khususnya perguruan tinggi ASEAN sangat perlu dalam rangka meningkatkan kapasitas perguruan tinggi kita, baik melalui proyek-proyek penelitian bersama. Joint seminar, menghadirkan dan menjadi dosen tamu internasional, pertukaran mahasiswa, mutual recognition arrangemment (MRA) dan sebagainya.

Disamping itu Perguruan Tinggi perlu melakukan langkah strategis agar kiprah perguruan Tinggi dikenal oleh masyarakat baik di dalam negeri maupun di luar negeri antara lain dengan optimalisasi penggunaan teknologi informasi dan meningkatkan efektifitas manajemen web institusi. 
Beberapa strategi agar web Perguruan Tinggi dapat digunakan  untuk meningkatkan daya saing adalah sebagai berikut :
a. Mengintegrasikan seluruh website di Fakultas/Departemen/Grup Riset kedalam web site Insitusi. 
b. Memperbaiki content website dengan informasi yang akurat, reliable dan updating data yang cepat. 
c. Membuat aturan yang mewajibkan seluruh sivitas akademika memanfatkan sistem informasi dan web site Institusi, antara lain, webmail, weblog, upload materi kuliah. 
d. Peningkatan referensi ke website Universitas melalui koordinasi dengan institusi partner dan alumni. 
e. Kebijakan bagi peneliti untuk ”diwajibkan” meng-upload naskah publikasi dalam bahasa Indonesia dan Inggris ke website Institusi. 
f. Meningkatkan kemampuan perpustakaan digital untuk menambah konten ilmiah berupa: 
•Pengembangan E-Book . 
Pengembangan koleksi e-book dapat dilakukan dengan pengembangan buku hasil karya dari civitas akademika. 
•Pengembangan E-Journal, 
Pengembangan journal yang diterbitkan di lingkungan Institusi
•Pengembangan E-Grey Literature. 
Grey literature atau literatur kelabu adalah koleksi yang tidak diterbitkan secara luas. Yang termasuk koleksi ini adalah skripsi, tesis, disertasi dan laporan penelitian. 
g. Menggalakkan e-learning untuk meningkatkan konten pembelajaran di website. 
h. Menggalakkan upload artikel ilmiah bagi dosen dan mahasiswa di website Institusi 
i. Menampilkan URL website/blognya pada jejaring sosial ( facebook, twitter, plurk, myspace dll) 

Perguruan tinggi harus memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan daya saingnya, mengingat di era pasar bebas ini arena persaingan semakin kompetitif, dan bersifat mendunia. Salah satu strategi untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi  adalah dengan melalui pemanfaatan teknologi informasi yang telah tersedia. Menjadikan website institusi sebagai portal “jangkar” bagi masyarakat perguruan tinggi dan masyarakat umum untuk berinteraksi dengan institusi dan juga sebagai alternative promosi keunggulan perguruan tinggi secara cepat dan mudah.
Perguruan Tinggi Indonesia tidak bisa bekerja seperti biasanya untuk menghadapi MEA, melainkan harus bekerja ekstra keras agar bisa bertahan dan berkembang ditengah persaingan dengan negara-negara ASEAN lainnya.
Demikianlah  yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan wisuda Univesitas Batanghari Jambi tahun 2015 ini. Atas perhatiannya saya sampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi tingginya  teriring harapan semoga Univesitas Batanghari Jambi sebagai salah satu perguruan Tinggi di Kopertis X menjadi Pusat Keunggulan (Center of Excellence) dalam mendesain perubahan menghadapi persaingan dengan Negara-negara yang ada di Asia Tenggara ini. 
Selamat dan sukses kepada wisudawan-wisudawati, Jayalah Univesitas Batanghari Jambi,  Kampusmu, dan Kampus Kita Semua.

Wassalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.